Teknik Fotografi Penjelasan Mengenai DOF (Depth Of Field) – Bagian 1

Image Credit : Flickr

Image Credit : Flickr

 

Cara obyek direproduksi dalam sebuah foto bisa sangat berbeda dari bagaimana ia tampil ketika diambil gambarnya. Ketika Anda menatap dengan mata Anda ke seluruh obyek, segala sesuatu di dalamnya tampak kurang lebih sama tajam, tapi kadang-kadang hanya fokus bagian tertentu obyek foto sehingga tampak tajam dan tampak blur di bagian selainnya. Disini akan kita bahasa penjelasan mengenai DOF.

Zona ketajaman ini disebut depth-of-field (DOF), yaitu ketajaman yang membentang ke depan dan ke belakang dari titik yang benar-benar menjadi fokus pada saat itu. Ukuran zona ketajaman ditentukan oleh tiga faktor utama – aperture atau bukaan lensa, panjang fokus lensa dan jarak Anda dari subjek. Memvariasikan ketiga elemen ini memungkinkan Anda mengontrol hampir penuh atas hasil depth-of-field dalam foto/gambar.

Ilustrasi Depth of Field (area ketajaman)

Ilustrasi Depth of Field (area ketajaman)

Ketika sebagian besar bagian obyek pada gambar terlihat tajam, maka kita katakan DOF luas. Bila hanya beberapa bagian saja yang tajam, maka kita katakan DOF sempit atau terbatas. Apakah kita akan menggunakan depth-of-field luas atau sempit tergantung pada konsep dan bagaimana ingin menggambarkan obyek terkait.

Tiga faktor utama yang dapat digunakan untuk mengontrol DOF.

Faktor Utama Penentu DOF

1. Aperture Lensa

Hubungan langsung antara aperture dan depth-of-field yaitu semakin kecil aperture, semakin luas depth-of-field (artinya semakin banyak bagian yang tajam) dan sebaliknya, semakin besar aperture semakin sempit depth-of-field (semakin sedikit bagian yang tajam).

Jadi jika Anda ingin mendapatkan sebanyak mungkin bagian foto yang tajam, setting sekecil mungkin aperture – misal antara f/16, atau bahkan f/22 jika lensa mendukung. Jangan lupakan kondisi pencahayaan, mungkin perlu menggunakan tripod atau bentuk lain yang membuat kamera stabil karena dengan aperture kecil kecepatan shutter membutuhkan lebih lama sehingga menciptakan risiko hasil foto blur karena kamera-goyang.

Namun, jika Anda ingin memusatkan perhatian hanya pada satu bagian dari obyek foto, dan membuang sisanya agar blur/out-of-focus, sebaiknya pilih aperture besar. Seberapa besar persisnya ini bisa tergantung pada aperture maksimum lensa yang Anda gunakan. Pada lensa standar 50mm bisa  f/1,7  f/1,8 atau f/2, tetapi untuk standar biasanya sekitar f/3,5 atau f / 4,5.

Untuk pengambilan gambar pada umumnya, bila Anda ingin sebagian besar bagian foto tajam, Anda bisa mengatur aperture sekitar f/8 sampai f/11. Ini bisa dicapai dengan setting mode eksposur Program dimana akan diatur secara otomatis oleh kamera. Bila memungkinkan Anda harus mengambil kendali seleksi aperture dan menggunakan Aperture-Priority atau mode manual.

Berikut adalah contoh bagaimana menggunakan lensa Nikon lama untuk membantu menunjukkan skala dan kedalaman lapangan berdasarkan aperture yang dipilih.

Lensa diatur ke aperture f/8, segala obyek dari jarak infinity (simbol yang terlihat seperti angka delapan) ke jarak lima kaki akan tampak tajam.

Lensa diatur ke aperture f/8, segala obyek dari jarak infinity (simbol yang terlihat seperti angka delapan) ke jarak 5kaki akan tampak tajam.

Lensa diatur ke aperture f/22, segala obyek dari jarak infinity (simbol yang terlihat seperti angka delapan) ke jarak dua kaki akan tampak tajam.

Lensa diatur ke aperture f/22, segala obyek dari jarak infinity (simbol yang terlihat seperti angka delapan) ke jarak 2 kaki akan tampak tajam.

2. Panjang Fokus Lensa

Menggunakan lensa wide-angle Anda akan mendapatkan keuntungan dari depth-of-field yang luas, yang membuatnya mudah untuk menjaga semua bagian obyek dalam foto dalam fokus. Semakin lebar sudut view, semakin besar dept-of-field. Sebaliknya jika menggunakan lensa tele maka depth-of-field lebih terbatas. Semakin besar focal-length lensa tele, semakin membatasi zona ketajaman.

Sebagai contoh pengaruh menggunakan focal length yang berbeda adalah. Lensa Nikon 28mm wide-angle di f/22 akan memberikan hasil yang tajam dari jarak 2 kaki hingga jarak infinity (tak terbatas). Sedangkan lensa Micro Nikkor 55mm dari jarak 7 kaki hingga infinity. Dan lensa Nikkor 105mm dari jarak sekitar 28 meter hingga tak terbatas.

3. Jarak Kamera ke Obyek

Semakin dekat kamera dengan obyek foto maka semaki terbatas depth-of-field atau ruang ketajaman. Bahkan, saat pengambilan foto close-up atau macro maka ruang ketajaman akan menjadi sangat sempit hanya beberapa milimeter di depan dan di belakang obyek.

Jadi di atas adalah penjelasan secara teorinya, perlu banyak berlatih praktek langsung sekian lama untuk mendapatkan feel mengenai DOF ini.

Bersambung ke Bagian-2 yaitu contoh teknik umum menggunakan depth-of-field

Bagian Kedua : http://rumorkamera.com/catatan-kami/teknik-fotografi-penjelasan-mengenai-dof-depth-of-field-bagian-2
source : http://www.ephotozine.com/article/depth-of-field-explained-4631


Lazada Indonesia

2 Comments

  1. Pingback: Teknik Fotografi Penjelasan Mengenai DOF (Depth Of Field) - Bagian 2

  2. Pingback: Teknik Fotografi – photo shine

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *